Nasihat untuk Tangisanmu

Kalau mau menangis, menangislah. Tapi jangan kau gantungkan tangisanmu itu di pundak orang lain. Orang lain tak ada yang mau. Tak pun diriku.

Kau tahu, aku pernah menangis. Saat itu tangisanku teramat deras, seperti ombak yang menghentak. Tapi, toh, tak ada yang mendengar walaupun sudah kuteriakkan. Aku bertanya dalam hati, apalah yang salah dengan mereka yang tak mau menanggapi? Hatiku tak memberi jawaban. Malah tambah runyam.

Sekali lagi aku menangis dan kuteriakkan ke tembok sehingga memantul lagi padaku. Anehnya, aku merasa lega. Tambah kuatku. Sampai-sampai mereka yang waktu itu tak mau menanggapi berkata aku nampak tak punya beban masalah. Sekali lagi, aneh.

Tapi itulah sekiranya yang akan kau rasakan setelah reda tangismu. Kau pilih akhir yang mana?

Tangismu jangan kau pendam. Biarlah semua sesak di dalam diri kau buang semua, jangan jadikan racun.

Aku berdoa, tangismu berubah menjadi keharuan.

Sudah, jangan dipikirkan.

Our Wall

How shock I am

Seeing there is a wall separate us

I’m trying to hit the wall

but the wall hit me back

How can you let it be

I’m here striving alone

Hey, realize! It’s our wall

Let’s smash together

So “I love you” becomes real again

 

Kabari Aku

Hai kamu kamu kamuuuu πŸ™‚ maafkan saya yang sudah hampir setahun menelantarkan blog ini. Banyak tulisan yang saya buat, tapi sayangnya karena (sok) sibuk kuliah, tulisan saya hampir semuanya setengah-setengah. Hm, kayaknya sih ada unsur kemalasan juga ya, karna yang namanya menulis itu gak ada kata males, kalo males itu berarti tulisan buat tugas sekolah atau kuliah, hahaha.

Sebagai permulaan, saya bikin bait-bait lagi, spesial buat kamu yang lagi nunggu kabar, dari siapapun itu. Kamu tau, waktu kamu nungguin kabar, rasanya kok kayak ada skenario-skenario aneh di pikiranmu, yang bikin kamu jadi nethink-an, jadi galau gak jelas, jadi marah-marah gak jelas, muka jadi kerut-kerut, pokoknya semua serba gak jelas karna nunggu kabar yang belom jelas. Istilahnya nungguin kabar itu kayak nungguin kepastian. Hm 😦 . Nah, siapa tau bait-bait ini mewakili perasaan kamu. Saya berharap, kalo kamu lagi kawatir nunggu kabar, selalu ingat tarik napas yang panjang dan hembuskan, niscaya kamu akan kaleman. tsaahhh…. πŸ™‚

KABARI AKU

disaat aku khawatir
dadaku sesak, pikiranku kelabu
lalu kutarik napas panjang dan kuhembuskan
dan kusadar, itu hanya pikiranku

adakah kau mau melepaskan aku dari pikiranku?
kabari aku
kabari
hanya itu saja
supaya aku bisa menjalani sisa beberapa jam di hari ini

aku tahu kau begitu
tapi kau juga tahu aku begini
jadi beradaptasilah untuk berbagai hal
sebelum akhirnya kita menjadi satu

membuatku khawatir sama saja seperti kau menarik oksigen di sekitarku
menghentikan napasku pelan-pelan
mengacaukan pikiranku
merusak hariku

mengabariku adalah wujud sayangmu padaku
mengabariku adalah tanda kau tahu aku peduli padamu
mengabariku adalah cerminan kepercayaanku
mengabariku adalah yang saat ini kutunggu

Cerita Sebelum Mengabdi

Orang-orang yang tidak menghargaimu memang tidak pantas kamu hargai. Abaikan! mereka tidak menyelamatkan apa yang telah kamu berikan pada mereka, yaitu rasa percayamu bahwa mereka itu orang-orang baik.

Hari ini saya akan melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Tepatnya di Purwakarta. Walaupun berangkat hari ini, tapi saya malah gak tidur. Ya, gak bisa tidur gimana dongg…. KKN di kampus saya diselenggarakan oleh LPM, singkatan dari Lembaga Pengabdian Masyarakat. Jadi, selama masa KKN, saya diharapkan dapat mengabdi untuk masyarakat Purwakarta. Sebenernya saya gak terlalu paham soal abdi mengabdi. Abdi saya terhadap Tuhan aja masih semeraut, hehe. Ya, tapi setidaknya saya dan rombongan angkatan saya yang KKN besok, sebisa mungkin, kami melakukan yang terbaik. Semoga yang terbaik yang bisa kami lakukan dapat dirasakan sebagai sebuah pengabdian (haha, apasih!).

Sudah lama saya gak nulis. Bisa dibayangkan berapa banyak cerita yang terlupakan di otak-yang-sudah-teracuni-mechin ini. Hm.. ada beberapa hal sebenernya yang gak terlupakan sih, tapi saya males banget untuk ungkapinnya. Postingan kali ini saya buat malem ini ditemani secangkir kopi panas dan lagunya Alexa, Andai. Hahahaha.. Saya gak tau kenapa jadi suka sama lagu ini. Saya download beberapa hari yang lalu. Liriknya tentang seseorang yang berandai andai, tapi sambil berandai andai, dia minta waktu untuk mewujudkan sesuatu. Dan dalam andai andainya dia berjanji tentang sesuatu. Hahaahaha, ribet ya? Just act, you know, gentlemen! Udah 2 hari ini lagu yang saya dengerin cuman lagu ini aja, haha. Mungkin karena saya suka berandai andai, seperti misalnya akir akir ini saya berandai andai menjadi sepintar, sewoles dan selucu Albert Einstein. Huuhhh.. sepertinya saya terlalu mengagumi sosok Einstein, sosok yang satu tipe kepribadian sama saya, tapi gak sama pinternya. Jauh gilak! :p . Kalo kopi panas sendiri, alasan saya suka kopi panas adalah karena saya suka minum kopi dalam keadaan hangat banget. You know, kalo kita punya kopi kan gak langsung diminum toh, pasti dibiarin di atas meja dulu. Sedangkan kalo saya punya kopi hangat, nantinya saya akan minum kopi itu dalam keadaan udah dingin. Uuuggg menurut saya kurang enak karena kopi dingin rasa manisnya jadi berlipat ganda. Menurut saya sih, hehe..

Sekitar beberapa minggu yang lalu, pas masih bulan puasa, saya ambil kelas semester pendek lagi. kalo di semester 4 kemarin saya ambil 2 mata kuliah, di semester 6 kemarin saya cuman ambil 1 mata kuliah, Statistika. Itupun mata kuliah ngulang karena cuman statistika yang nilainya kacau balau. Bisa dibilang semester pendek semester 6 gak semenarik semester pendek semester 4. Susananya gak ada yang baru, masuk kelasnya pagi bener, dan dapet dosen yang.. ya begitu. Mengenai dosen statistika saya ini, saya mengagumi semangat belajar beliau dan cara beliau memandang ilmu pengetahuan (bisa dilihat dari cara beliau menjawab pertanyaan mahasiswanya dengan tepat dan antusias, tanpa ada jeda, begitu mahasiswa selesai nanya beliau langsung bisa jawab). Saya akui beliau pintar sekali. Dari sekian banyak kata kata yang keluar dari beliau, ada 1 hal yang saya inget terus. Beliau pernah bilang, minat belajar mahasiswa jaman sekarang menurun karena mahasiswa jaman sekarang tidak menganggap pelajaran sebagai sesuatu yang harus dipelajari, tidak ada ujungnya, tidak tau alasan mengapa mereka harus belajar. Padahal mahasiswa jaman dulu, setiap belajar mereka akan belajar dengan antusias, punya sifat kompetisi, dan tujuan akirnya adalah pulang ke rumah laporan sama mamah papah bahwa mereka bisa mengerjakan semua soal UTS dan UAS dengan baik dan hasilnya A. Yup, itu yang beliau katakan. Menurut saya ada benarnya juga. Dulu waktu saya SD, saya melakukan itu. Dan kebudayaan itu luntur begitu saya SMA. Ah, terkadang kepolosan anak kecil seperti bermain tanpa ada niat jahat, belajar dengan niat mau nunjukin nilai bagus ke mamah papah, dan istirahat sesuai waktunya, sepertinya hal hal itu harus diberlakukan pada masa perkuliahan. Gak hanya untuk saya aja, tapi juga buat kamu kamu yang masih pada masa kuliah kayak saya. Biar gak stress, bo!

Semester 6 benar benar sebuah pelajaran berharga buat saya. Continue reading

Tertiup Angin

Ah mau sampai kapan napas ini tersengal-sengal

Memang akhir-akhir ini kenyataan seperti harapan ditambah kerja keras

Rasanya ingin berbaring menantang sesuatu

Berbaring di lapangan luas menantang permainan baseball

Atau berbaring di jalan raya

Tapi lelah ini membuatku ingin teriak sekencang-kencangnya

Benar-benar melelahkan

Satu per satu hasil telah kudapat

Namun kepuasan itu hanya berlangsung semenit

Selebihnya yang lain masih menanti

Perasaan hampa seperti tertiup angin

Sekarang waktunya berjuang dan jadi lebih baik!

Just Night Talks

5 things you need to know about visiting New Zealand {Punakaiki, New Zealand}

Malem ini harus begadang lagi. Tugas numpuk banget! Rasanya selalu pingin ngasih usaha maksimal disetiap mata kuliah, tapi otak saya sering jalan disaat yang gak tepat, seperti contohnya malem ini.. antara tugas dan pikiran gak sejalan.

Lagi capek begini, rasanya pingin banget ngobrol sama seseorang. Secara langsung. Kadang saya suka depresi gak jelas kalo lagi sendirian begini. Gak ada temen ngobrol. Kalo dipikir-pikir, saya seperti gak punya temen lagi. punya sih, tapi tinggal beberapa aja. Sisanya …. Continue reading

For You, Scholar Men

"The society that separates scholars from its warriors will have it thinking done by cowards and its fighting done by fools." -Thucydides

Buat kamu kamu yang lagi bosen sekolah atau kuliah, menurut saya itu hal yang wajar. Rasanya tuh rutinitas belajar gak ada hentinya, pagi pagi harus bangun, tugas selesai 1 eh malah dateng 2 tugas baru. Kalo udah begini pasti males sekolah atau ngampus, dateng ditelat telatin, dll yang biasanya kamu lakuin disaat rasa males kamu kumat. Hehe.

Nah, ini ada kalimat kalimat yang semoga aja bikin kamu semua ngerti kenapa kamu sekarang menjalani pendidikan. Kamu tau, pendidikan itu penting. Awalnya pait karena kamu seperti dipaksa melakukan hal hal yang kamu gak suka, kedisiplinan yang kamu gak mengerti kenapa suka atau gak suka harus kamu jalani. Tapi setelah semuanya dilalui (apalagi dilalui dengan baik) maka kamu akan bersyukur sendiri nantinya karena banyak hal menyenangkan yang bisa kamu lakukan.

Ini buat kamu, buat saya, buat kita. πŸ™‚

kutipan dari salah satu buku favorit saya, The Catcher In The Rye. Sengaja gak saya translate ke bahasa Indonesia supaya kata katanya lebih murni dan lebih menyerap di hati (halahh):

“And I hate to tell you,” he said, “but I think that once you have a fair idea where you want to go, your first move will be to apply yourself in school. You’ll have to. You’re a student — whether the idea appeals to you or not. You’re in love in knowledge. And I think you’ll find, once you get past all, you’re going to start getting closer and closer — that is, if you want to, and if you look for it and wait for it — to the kind of information that will be very, very dear to your heart.”

“Among other things, you’ll find that you’re not the first person who was ever confused and frigthened and even sickened by human behavior. You’re by no means alone on that score, you’ll be excited and stiulated to know. Many, many men have been just as troubled morally and spiritually as you are right now. Happily, some of them kept records of their troubles. You’ll learn from them — if you want to. Just as someday, if you have something to offer, someone will learn something from you. It’s a beautiful reciprocal arrangement. And it isn’t education. It’s history. It’s poetry.”

“I’m not trying to tell you, that only educated and scholary men are able to contribute something valuable to the world. It’s not so. But I do say that educated and scholary men, if they’re brilliant and creative to begin with — which, unfortunately, is rarely the case tend to leave infinitely more valuable records behind them than men do who are merely brilliant and creative. They tend to express themselves more clearly, and they usually have a passion for following their thoughts through to the end. And — most important — nine times out of ten they have more humility than the unscholary thinker.”

Continue reading