The Limit Of Calm

harus sejauh mana? sejauh mana….?

 

Baru-baru ini saya nonton film GIE. Film yang rilis tahun 2005 ini menurut saya salah satu film yang bagus banget nget ngettt…. Dari sisi seorang penonton, saya dibuat merasakan betul keadaan jaman dulu itu seperti apa. Kendaraan jaman dulu kayak gimana. Cara orang bersikap kayak gimana. Sampe ke galaunya orang jaman dulu kayak gimana. Haha.. bagus deh pokoknya.. bisa kebayang susasananya.

Juga sebagai pembuat film (ehem.. saya pernah satu kali bikin film pendek bersama kelompok sistem multimedia saya yang menyenangkan :)) ), yang sangat sangat tidak bisa dibandingkan hasil karyanya dengan karya beliau sang sutradara apik, Riri Riza, saya sangat mengagumi cara Riri mengambil gambar, cara Riri memikirkan gimana sinkronisasi emosi sehingga penonton ngerti dan gak bosen, cara mendeskripsikan sebuah keadaan jadi singkat tapi padat dan jelas tanpa terlihat kurang, cara menyeting tempat, dan banyak lagi (saya lagi gak kepikiran haha😛 ). Saya suka tampilan jaman dulu yang “memang jaman dulu”.. gak seperti “tampilan jaman dulu”. Ya, begitu deh.. Saya juga suka melihat keadaan jalannya. Ada adegan, dimana ada gedung sepatu Bata yang saya liat jadul banget, trus juga plang plang jalan yang masih menggunakan ejaan lama, juga siaran radio.. saya sempet berpikir, kok bisa ya? syutingnya dimana itu? siaran radionya asli? Haha, pokoknya saya kepo banget. Kepo karena terpana. Ceilahhh😛

Untuk isi ceritanya.. nah ini. Bagus!🙂 . Saya, yang pas nonton, belum ngepoin profil Gie, dibuat tau Gie itu seperti apa karakternya. Nicholas Saputra bagus sekali meraninnya. Love you, Nico.. #loh😀 . Dibalik semangat juang dan segala kebebasannya, Gie juga punya sisi sendu agak mendayu. Hasil kepoan saya di wikiped, Gie meninggal karena menghirup asap berbahaya di gunung. Tapi, ini opini saya, di film, Gie lebih terlihat sendu karena merasa terasingkan sama pujaan hatinya, trus ngasingin diri ke gunung trus meninggal di gunung karena sakit (soalnya sebelumnya ending ada adegan Nico batuk-batuk gitu).

Ngeliat Nicholas Saputra berperan emang gak gak cukup sekali. abis itu saya lanjut nonton 3 Hari Untuk Selamanya. Dan, Nico tetep bagus berperan🙂

Ahhh keinget sepi sunyi senyap.. jadi ada bait nih — bait sok pinter– hahahaha.

~~~~

Batas tenang. Sunyi, senyap. Terkadang aku tidak tau kenapa manusia menyenangi ketenangan yang sunyi. Berlomba-lomba melarikan diri ke tempat dimana bunyi tak mau mampir. Hanya pemandangan indah.. Bagiku, itu hanyalah bagai menonton film bisu.

Menyendiri bukan berarti menyapa kesunyian. Menyendiri juga bisa ditempat keramaian. Keramaian dimana tak seorangpun menyapamu dan kamupun tak tertarik menyapa mereka.

Aku pernah berada ditempat itu. Menyendiri dalam kesunyian, menyendiri dalam keramaian. Dan.. kebahagiaan semu yang kudapat.

Lalu aku bertanya kepada diriku, untuk apa aku menyendiri? Mengapa harus menyendiri disaat banyak yang menghampiri?

Semua ketenangan individualis memang tak akan bertahan lama. Bagaimanapun, kamu adalah manusia. Mau menyendiri kemanapun, pasti akan bertemu manusia lainnya. Manusia lain yang suatu hari bisa saja menjadi seseorang yang tidak pernah ingin kamu tinggalkan atau menjadi seseorang yang ingin rasanya kamu enyahkan.. dan menyendiri lagi.

Ah, seperti sebuah siklus. Memang ini yang kamu inginkan? Inikah sebuah rutinitas manusia urban? Memangnya kamu kaum urban?

Terlalu banyak pertanyaan. Bertanya pada diri sendiri, namun bahkan diri sendiri tak mampu menjawabnya. Hingga esok akhirnya menghampiri dan pertanyaan tetap tak mampu kamu jawab.. mengambang, mengalun dalam pikiranmu bersama kisah-kisah hidupmu selanjutnya. Yang lucunya, kamu anggap pikiranmu sedang berfilsafat.

Berfilsafat. Saat engkau berpikir dan bertanya-tanya dalam kepolosan pikiranmu, kamu anggap sedang berfilsafat. Ya, mungkin ada benarnya.

Menyendirilah dalam pikiranmu, tapi tidak dengan ragamu. Ragamu mengantarkanmu kepada jiwa yang setiap saat baru, sehingga disitulah pikiranmu akan berkembang dan kamu akan mendapat jawaban.

Ini untukmu, untuk aku, untuk semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s